Feb 5, 2016

5 Shalat Sunnah

5 Shalat Sunnah yang Bisa Dirutinkan

Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya.

Amalan yang terbaik adalah yang ajeg (kontinu) walau jumlahnya sedikit. Begitu pula dalam shalat sunnah, beberapa di antaranya bisa kita jaga rutin karena itulah yang dicintai oleh Allah. Apa saja amalan shalat sunnah tersebut? Berikut kami sebutkan keutamaannya, semoga membuat kita semangat untuk menjaga dan merutinkannya.

Pertama: Shalat Sunnah Rawatib

Mengenai keutamaan shalat sunnah rawatib diterangkan dalam hadits berikut ini. Ummu Habibah berkata bahwa ia mendengar Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ صَلَّى اثْنَتَىْ عَشْرَةَ رَكْعَةً فِى يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ بُنِىَ لَهُ بِهِنَّ بَيْتٌ فِى الْجَنَّةِ

Barangsiapa yang mengerjakan shalat 12 raka’at (sunnah rawatib) sehari semalam, akan dibangunkan baginya rumah di surga.” (HR. Muslim no. 728)

Dalam riwayat At Tirmidzi sama dari Ummu Habibah, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda,

مَنْ صَلَّى فِى يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ ثِنْتَىْ عَشْرَةَ رَكْعَةً بُنِىَ لَهُ بَيْتٌ فِى الْجَنَّةِ أَرْبَعًا قَبْلَ الظُّهْرِ وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَهَا وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْمَغْرِبِ وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْعِشَاءِ وَرَكْعَتَيْنِ قَبْلَ صَلاَةِ الْفَجْرِ

Barangsiapa sehari semalam mengerjakan shalat 12 raka’at (sunnah rawatib), akan dibangunkan baginya rumah di surga, yaitu: 4 raka’at sebelum Zhuhur, 2 raka’at setelah Zhuhur, 2 raka’at setelah Maghrib, 2 raka’at setelah ‘Isya dan 2 raka’at sebelum Shubuh.” (HR. Tirmidzi no. 415 dan An Nasai no. 1794, kata Syaikh Al Albani hadits ini shahih).

Yang lebih utama dari shalat rawatib adalah shalat sunnah fajar (shalat sunnah qobliyah shubuh).  ‘Aisyah berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

رَكْعَتَا الْفَجْرِ خَيْرٌ مِنْ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا

Dua rakaat sunnah fajar (subuh) lebih baik dari dunia dan seisinya.”  (HR. Muslim no. 725)

Juga dalam hadits ‘Aisyah yang lainnya, beliau berkata,

لَمْ يَكُنْ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى شَيْءٍ مِنْ النَّوَافِلِ أَشَدَّ مِنْهُ تَعَاهُدًا عَلَى رَكْعَتَيْ الْفَجْرِأخرجه الشيخان

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak melakukan satu pun shalat sunnah yang kontinuitasnya (kesinambungannya) melebihi dua rakaat (shalat rawatib) Shubuh.” (HR. Bukhari no. 1169 dan Muslim no. 724)

Kedua: Shalat Tahajud (Shalat Malam)

Allah Ta’ala berfirman,

أَمْ مَنْ هُوَ قَانِتٌ آَنَاءَ اللَّيْلِ سَاجِدًا وَقَائِمًا يَحْذَرُ الْآَخِرَةَ وَيَرْجُو رَحْمَةَ رَبِّهِ قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الْأَلْبَابِ

(Apakah kamu hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadat di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah: “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran. ” (QS. Az Zumar: 9). Yang dimaksud qunut dalam ayat ini bukan hanya berdiri, namun juga disertai dengan khusu’ (Lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 12: 115). Salah satu maksud ayat ini, “Apakah sama antara orang yang berdiri untuk beribadah (di waktu malam) dengan orang yang tidak demikian?!” (Lihat Zaadul Masiir, Ibnul Jauzi, 7/166). Jawabannya, tentu saja tidak sama.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda,

أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ شَهْرِ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ وَأَفْضَلُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلَاةُ اللَّيْلِ

Sebaik-baik puasa setelah puasa Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah –Muharram-. Sebaik-baik shalat setelah shalat wajib adalah shalat malam.” (HR. Muslim no. 1163, dari Abu Hurairah)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda,

عَلَيْكُمْ بِقِيَامِ اللَّيْلِ فَإِنَّهُ دَأْبُ الصَّالِحِيْنَ قَبْلَكُمْ وَهُوَ قُرْبَةٌ إِلَى رَبِّكُمْ وَمُكَفِّرَةٌ لِلسَّيِّئَاتِ وَمَنْهَاةٌ عَنِ الإِثْمِ

Hendaklah kalian melaksanakan qiyamul lail (shalat malam) karena shalat amalan adalah kebiasaan orang sholih sebelum kalian dan membuat kalian lebih dekat pada Allah. Shalat malam dapat menghapuskan kesalahan dan dosa. ” (Lihat Al Irwa’ no. 452. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan)

Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhuberkata, “Shalat hamba di tengah malam akan menghapuskan dosa.” Lalu beliau membacakan firman Allah Ta’ala,

تَتَجَافَى جُنُوبُهُمْ عَنِ الْمَضَاجِعِ

Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya, …” (HR. Imam Ahmad dalam Al Fathur Robbani 18/231. Bab “تَتَجَافَى جُنُوبُهُمْ عَنِ الْمَضَاجِعِ “)

‘Amr bin Al ‘Ash radhiyallahu ‘anhuberkata, “Satu raka’at shalat malam itu lebih baik dari sepuluh rakaat shalat di siang hari.” (Disebutkan oleh Ibnu Rajab dalam Lathoif Ma’arif 42 dan As Safarini dalam Ghodzaul Albaab 2: 498)

Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhumaberkata, “Barangsiapa yang shalat malam sebanyak dua raka’at maka ia dianggap telah bermalam karena Allah Ta’aladengan sujud dan berdiri.” (Disebutkan oleh An Nawawi dalam At Tibyan 95)

Ada yang berkata pada Al Hasan Al Bashri , “Begitu menakjubkan orang yang shalat malam sehingga wajahnya nampak begitu indah dari lainnya.” Al Hasan berkata, “Karena mereka selalu bersendirian dengan Ar Rahman -Allah Ta’ala-. Jadinya Allah memberikan di antara cahaya-Nya pada mereka.”

Abu Sulaiman Ad Darini berkata, “Orang yang rajin shalat malam di waktu malam, mereka akan merasakan kenikmatan lebih dari orang yang begitu girang dengan hiburan yang mereka nikmati. Seandainya bukan karena nikmatnya waktu malam tersebut, aku tidak senang hidup lama di dunia.” (Lihat Al Lathoif 47 dan Ghodzaul Albaab 2: 504)

Imam Ahmad berkata, “Tidak ada shalat yang lebih utama dari shalat lima waktu (shalat maktubah) selain shalat malam.” (Lihat Al Mughni 2/135 dan Hasyiyah Ibnu Qosim 2/219)

Tsabit Al Banani berkata, “Saya merasakan kesulitan untuk shalat malam selama 20 tahun dan saya akhirnya menikmatinya 20 tahun setelah itu.” (Lihat Lathoif Al Ma’arif 46). Jadi total beliau membiasakan shalat malam selama 40 tahun. Ini berarti shalat malam itu butuh usaha, kerja keras dan kesabaran agar seseorang terbiasa mengerjakannya.

Ada yang berkata pada Ibnu Mas’ud, “Kami tidaklah sanggup mengerjakan shalat malam.” Beliau lantas menjawab, “Yang membuat kalian sulit karena dosa yang kalian perbuat.” (Ghodzaul Albaab, 2/504)

Lukman berkata pada anaknya, “Wahai anakku, jangan sampai suara ayam berkokok mengalahkan kalian. Suara ayam tersebut sebenarnya ingin menyeru kalian untuk bangun di waktu sahur, namun sayangnya kalian lebih senang terlelap tidur.” (Al Jaami’ li Ahkamil Qur’an 1726)

Ketiga: Shalat Witir

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda,

اجْعَلُوا آخِرَ صَلاَتِكُمْ بِاللَّيْلِ وِتْرً

Jadikanlah akhir shalat malam kalian adalah shalat witir.” (HR. Bukhari no. 998 dan Muslim no. 751)

*Sholat witir terdiri dari rekaat yang ganjil. (Pent. SB)

Keempat: Shalat Dhuha

Dari Abu Dzar, Nabi shallallahu ‘alihi wa sallam bersabda,

يُصْبِحُ عَلَى كُلِّ سُلاَمَى مِنْ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ فَكُلُّ تَسْبِيحَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَحْمِيدَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَهْلِيلَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَكْبِيرَةٍ صَدَقَةٌ وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ صَدَقَةٌ وَنَهْىٌ عَنِ الْمُنْكَرِ صَدَقَةٌ وَيُجْزِئُ مِنْ ذَلِكَ رَكْعَتَانِ يَرْكَعُهُمَا مِنَ الضُّحَى

Pada pagi hari diharuskan bagi seluruh persendian di antara kalian untuk bersedekah. Setiap bacaan tasbih (subhanallah) bisa sebagai sedekah, setiap bacaan tahmid (alhamdulillah) bisa sebagai sedekah, setiap bacaan tahlil (laa ilaha illallah) bisa sebagai sedekah, dan setiap bacaan takbir (Allahu akbar) juga bisa sebagai sedekah. Begitu pula amar ma’ruf (mengajak kepada ketaatan) dan nahi mungkar (melarang dari kemungkaran) adalah sedekah. Ini semua bisa dicukupi (diganti) dengan melaksanakan shalat Dhuha sebanyak 2 raka’at.” (HR. Muslim no.  720)

Padahal persendian yang ada pada seluruh tubuh kita sebagaimana dikatakan dalam hadits dan dibuktikan dalam dunia kesehatan adalah 360 persendian. ‘Aisyah pernah menyebutkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

إِنَّهُ خُلِقَ كُلُّ إِنْسَانٍ مِنْ بَنِى آدَمَ عَلَى سِتِّينَ وَثَلاَثِمَائَةِ مَفْصِلٍ

Sesungguhnya setiap manusia keturunan Adam diciptakan dalam keadaan memiliki 360 persendian.” (HR. Muslim no. 1007)

Hadits ini menjadi bukti selalu benarnya sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Namun sedekah dengan 360 persendian ini dapat digantikan dengan shalat Dhuha sebagaimana disebutkan pula dalam hadits berikut,

أَبِى بُرَيْدَةَ يَقُولُ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ « فِى الإِنْسَانِ سِتُّونَ وَثَلاَثُمِائَةِ مَفْصِلٍ فَعَلَيْهِ أَنْ يَتَصَدَّقَ عَنْ كُلِّ مَفْصِلٍ مِنْهَا صَدَقَةً ». قَالُوا فَمَنِ الَّذِى يُطِيقُ ذَلِكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ « النُّخَاعَةُ فِى الْمَسْجِدِ تَدْفِنُهَا أَوِ الشَّىْءُ تُنَحِّيهِ عَنِ الطَّرِيقِ فَإِنْ لَمْ تَقْدِرْ فَرَكْعَتَا الضُّحَى تُجْزِئُ عَنْكَ »

Dari Buraidah, beliau mengatakan bahwa beliau pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Manusia memiliki 360 persendian. Setiap persendian itu memiliki kewajiban untuk bersedekah.” Para sahabat pun mengatakan, “Lalu siapa yang mampu bersedekah dengan seluruh persendiannya, wahai Rasulullah?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas mengatakan, “Menanam bekas ludah di masjid atau menyingkirkan gangguan dari jalanan. Jika engkau tidak mampu melakukan seperti itu, maka cukup lakukan shalat Dhuha dua raka’at.” (HR. Ahmad, 5: 354. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini shahih ligoirohi)

Imam Nawawi mengatakan,  “Hadits dari Abu Dzar adalah dalil yang menunjukkan keutamaan yang sangat besar dari shalat Dhuha dan menunjukkannya kedudukannya yang mulia. Dan shalat Dhuha bisa cukup dengan dua raka’at.” (Syarh Shahih Muslim, 5: 234)

Asy Syaukani mengatakan,  “Hadits Abu Dzar dan hadits Buraidah menunjukkan keutamaan yang luar biasa dan kedudukan yang mulia dari Shalat Dhuha. Hal ini pula yang menunjukkan semakin disyari’atkannya shalat tersebut. Dua raka’at shalat Dhuha sudah mencukupi sedekah dengan 360 persendian. Jika memang demikian, sudah sepantasnya shalat ini dapat dikerjakan rutin dan terus menerus.” (Nailul Author, 3: 77)

Kelima: Shalat Isyroq

Shalat isyroq termasuk bagian dari shalat Dhuha yang dikerjakan di awal waktu. Waktunya dimulai dari matahari setinggi tombak (15 menit setelah matahari terbit) setelah sebelumnya berdiam diri di masjid selepas shalat Shubuh berjama’ah. Dari Abu Umamah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ صَلَّى صَلاةَ الصُّبْحِ فِي مَسْجِدِ جَمَاعَةٍ يَثْبُتُ فِيهِ حَتَّى يُصَلِّيَ سُبْحَةَ الضُّحَى، كَانَ كَأَجْرِ حَاجٍّ، أَوْ مُعْتَمِرٍ تَامًّا حَجَّتُهُ وَعُمْرَتُهُ

Barangsiapa yang mengerjakan shalat shubuh dengan berjama’ah di masjid, lalu dia tetap berdiam di masjid sampai melaksanakan shalat sunnah Dhuha, maka ia seperti mendapat pahala orang yang berhaji atau berumroh secara sempurna.” (HR. Thobroni. Syaikh Al Albani dalam Shahih Targhib 469 mengatakan bahwa hadits ini shahih ligoirihi/ shahih dilihat dari jalur lainnya)

Dari Anas bin Malik, Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

« مَنْ صَلَّى الْغَدَاةَ فِى جَمَاعَةٍ ثُمَّ قَعَدَ يَذْكُرُ اللَّهَ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ كَانَتْ لَهُ كَأَجْرِ حَجَّةٍ وَعُمْرَةٍ ». قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « تَامَّةٍ تَامَّةٍ تَامَّةٍ »

Barangsiapa yang melaksanakan shalat shubuh secara berjama’ah lalu ia duduk sambil berdzikir pada Allah hingga matahari terbit, kemudian ia melaksanakan shalat dua raka’at, maka ia seperti memperoleh pahala haji dan umroh.” Beliau pun bersabda, “Pahala yang sempurna, sempurna dan sempurna.” (HR. Tirmidzi no. 586. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan)

– Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna –

 

@ Ummul Hamam, Riyadh KSA, 18 Shafar 1433 H

Artikel Kajian Umum di Dammam, KSA, 18 Shafar 1433 H

www.rumaysho.com

Pendidikan Anak Si Buah Hati

Allah Ta'ala berfirman:

يا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَ أَهْلِيكُمْ ناراً 

"Wahai orang-orang yang beriman peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka." (QS At Tahrim: 6)

Untuk setiap ayah dan ibu ada beberapa poin yang harus diperhatikan dalam mendidik anak:

🍃 ⑴ DASAR DALAM MENDIDIK ANAK ADALAH MENEGAKKAN PERIBADAHAN KEPADA ALLAH TA'ALA DI DALAM HATI DAN JIWA MEREKA.

🍃⑵ AYAH DAN IBU SENANTIASA DALAM NUANSA PERIBADATAN KEPADA ALLAH TA'ALA.

🍃⑶ MENGEDEPANKAN SIKAP IKHLAS DALAM MASALAH PENDIDIKAN.

🍃⑷ DOA YANG TULUS DAN TERUS MENERUS UNTUK KEBAIKAN ANAK.

🍃⑸ CARILAH RIZKI YANG HALAL DAN JAUHI HARTA YANG SYUBHAT (MERAGUKAN).

🍃⑹ TELADAN YANG BAIK ADALAH KEBUTUHAN POKOK DALAM PENDIDIKAN.

🍃⑺ SISIHKAN SEBAGIAN PERHATIAN KITA UNTUK MEMAHAMI URUSAN DUNIA DALAM BIDANG PENDIDIKAN.

🍃⑻ SABAR.

🍃⑼ SHALAT DAN SHALAT.

🍃⑽ MEMPERHATIKAN BAKAT KHUSUS DAN PERBEDAAN INDIVIDU MASING-MASING ANAK, SERTA BERSIKAP ADIL DALAM MEMPERLAKUKAN MEREKA.

🍃⑾ BERKOMITMEN UNTUK MENAHAN KEMARAHAN DAN LEDAKAN EMOSI.

🍃⑿ MASIH ADA WAKTU UNTUK MEMPERBAIKI KELALAIAN KITA DALAM MENDIDIK ANAK.

*********************************************
🌍 BimbinganIslam.com
Sabtu, 13 Rabi'ul Akhir 1437 H / 23 Januari 2016 M
📗 Materi Tematik | Agar Kutuai Keshalehan Buah Hatiku
__________________________________________

Sesungguhnya ni'mat dan karunia Allah tak terhingga, dan di antara ni'mat yang paling mulia adalah ni'mat keturunan atau anak. Tidak ada yang mengetahui keagungan ni'mat ini kecuali orang orang yang terhalang mendapatkannya.

Anak juga merupakan amanah bagi kedua orang tua, yang kelak akan dipertanggung jawabkan di hadapan Allah, apakah ia menunaikan hak-hak mereka ataukah melalaikannya.

Allah Ta'ala berfirman:

يا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَ أَهْلِيكُمْ ناراً 

"Wahai orang-orang yang beriman peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka." (QS At Tahrim: 6)

Keshalihan dan kesuksesan seorang anak adalah dambaan setiap orang tua. Namun, tentu saja butuh kerja keras dalam mewujudkannya. Untuk setiap ayah dan ibu ada beberapa poin yang harus diperhatikan dalam mendidik anak:

🍃 ⑴ DASAR DALAM MENDIDIK ANAK ADALAH MENEGAKKAN PERIBADAHAN KEPADA ALLAH TA'ALA DI DALAM HATI DAN JIWA MEREKA.

Allah telah menjadikan anak terlahir dalam kondisi beragama Islam, sehingga yang dibutuhkan adalah pengasuhan dan pengarahan yang benar agar ia tidak tersesat.

🍃⑵ AYAH DAN IBU SENANTIASA DALAM NUANSA PERIBADATAN KEPADA ALLAH TA'ALA.

Niatkan setiap hal yang dilakukan untuk anak, seperti mencari nafkah, mengajari, bahkan ketika bercanda sekalipun adalah ibadah untuk mencari keridhaan dan pahala dari Allah.

🍃⑶ MENGEDEPANKAN SIKAP IKHLAS DALAM MASALAH PENDIDIKAN.

Niat yang ikhlas memiliki kedudukan yang penting dan menjadi sebab kemaslahatan anak dan kebaikan pendidikan.

Karenanya, tidak sepatutnya ayah ibu menginginkan tujuan dunia dalam pendidikan anak, seperti agar anak dikatakan pintar, atau sekedar mendapatkan gelar dan jabatan.

🍃⑷ DOA YANG TULUS DAN TERUS MENERUS UNTUK KEBAIKAN ANAK.

Dikisahkan dalam Al Qur'an bahwa para nabi dan rasul selalu memanjatkan doa untuk anak dan istri mereka. Carilah waktu-waktu mustajab dan jauhilah penghalang diterimanya doa.

🍃⑸ CARILAH RIZKI YANG HALAL DAN JAUHI HARTA YANG SYUBHAT (MERAGUKAN).

Karena Rasulullah shallahu alahi wa sallam bersabda:

"Wahai Ka'ab bin Ajrah, sesungguhnya tidak akan masuk surga daging yang tumbuh dari harta yang haram."

(HR Ahmad dishahihkan oleh Al Albani)

🍃⑹ TELADAN YANG BAIK ADALAH KEBUTUHAN POKOK DALAM PENDIDIKAN.

Bagaimana seorang anak akan mengamalkan yang diperintahkan apabila ia melihat orang tuanya menyepelekan amalan tersebut.

Atau bagaimana ia menjauhi suatu larangan sementara ia melihat orang tuanya gemar melakukan amalan tersebut.

Selain itu ingatlah bahwa ketika kita memberi teladan kita akan mendapat pahala selama anak kita mengamalkannya.

🍃⑺ SISIHKAN SEBAGIAN PERHATIAN KITA UNTUK MEMAHAMI URUSAN DUNIA DALAM BIDANG PENDIDIKAN.

Seperti metode pendidikan berdasarkan tahapan perkembangan anak, sarana modern yang menunjang pendidikan, dan semisalnya.

🍃⑻ SABAR.

Kesabaran adalah faktor terpenting dalam kesuksesan pendidikan.

Bersabar dalam menghadapi sikap buruk anak, rasa bosan anak, bersabar ketika berletih-letih mengantar anak demi mendapatkan pendidikan terbaik, dan bergembiralah karena kita sedang berada di tengah jihad di jalan Allah.

Allah berfirman:

والذين جهدوا فينا لنهدينهم سبلنا

"Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, Kami akan tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami."
(Al Ankabut: 69)

🍃⑼ SHALAT DAN SHALAT.

Shalat adalah kewajiban yang agung setelah syahadat. Berkomitmenlah dalam melaksanakannya dan tanamkan pada diri anak pentingnya dan kedudukan shalat dalam Islam, serta ajarkan mereka sholat sejak usia 7 tahun.

🍃⑽ MEMPERHATIKAN BAKAT KHUSUS DAN PERBEDAAN INDIVIDU MASING-MASING ANAK, SERTA BERSIKAP ADIL DALAM MEMPERLAKUKAN MEREKA.

Jangan menjadi orang tua yang mengabaikan bakat dan kemampuan anak ketika kecil, sehingga mereka tumbuh dalam kekosongan dan kesia-siaan.

🍃⑾ BERKOMITMEN UNTUK MENAHAN KEMARAHAN DAN LEDAKAN EMOSI.

Berlindunglah kepada Allāh ketika emosi mulai memuncak.

Islam telah mengatur hukuman bagi anak, seperti pukulan bagi anak tidak boleh lebih dari sepuluh kali, usia anak lebih dari 10 tahun, menggunakan tongkat yang kecil, dan menghindari memukul wajah dan aurat.

Akan lebih baik bila kita mampu mengganti pukulan dengan motivasi atau memboikot sementara kesenangan mereka.

🍃⑿ MASIH ADA WAKTU UNTUK MEMPERBAIKI KELALAIAN KITA DALAM MENDIDIK ANAK.

Mulai sekarang berikan porsi waktu dan perhatian yang lebih untuk mereka.

Mari kita teladani Rasulullah dalam berinteraksi dengan anak-anak, bagaimana Beliau shallallāhu 'alayhi wa sallam bersikap tawadhu', bercanda, tanpa melupakan pengajaran bagi anak-anak.

Dan semoga Allah mengaruniakan keturunan yang sholih kepada kita, menjadikan pandangan mata kita sejuk karena keshalihan mereka, dan mengumpulkan kita bersama mereka dalam syurgaNya.

📖 Disadur dari buku Kultum Setahun Bab Pendidikan Anak, Abdul Malik bin Muhammad Abdurrahman Al Qasim

✒ ️Ummu Sholih, di Jogjakarta
__________________________
📦 Donasi Operasional & Pengembangan Dakwah Group Bimbingan Islam
| Bank Mandiri Syariah
| Kode Bank 451
| No. Rek : 7103000507
| A.N : YPWA Bimbingan Islam
| Konfirmasi Transfer : +628-222-333-4004

🌐 Website: 
http://www.bimbinganislam.com
👥 Facebook Page: 
Fb.com/TausiyahBimbinganIslam
📣 Telegram Channel:
http://goo.gl/4n0rNp
📺 TV Channel:
http://BimbinganIslam.tv

Berikhtiar dan Bertawakkal Menjadi Muslim Yang Baik

🌍 BimbinganIslam.com
Jum'at, 12 Rabi'ul Akhir 1437 H / 22 Januari 2016 M
📝 Materi Tematik
👤 Ustadz Abu Fairuz, MA
🔊 Ceramah Singkat | Muslim Yang Baik
⬇️ Download audio:  https://goo.gl/KOe0Uv

Sumber:
https://yufid.tv/13422-ceramah-singkat-muslim-yang-baik-ustadz-abu-fairuz-ma.html
➖➖➖➖➖➖➖

MUSLIM YANG BAIK

بسم اللّه الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ وَصَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ عَلَى عبده ورسوله مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ, أَمَّا بَعْدُ

Seorang mukmin yang baik adalah seorang mukmin yang senantiasa memenuhi hak-hak Allāh Subhānahu wa Ta'āla dan hak-hak hamba-Nya.

Bukanlah seorang mukmin yang sejati, jikalau dia timpang satu bagian dari dua bagian ini.

Maka yang namanya habluminallāh (hubungan seseorang dengan Allāh ) haruslah baik.

Apakah cukup sampai disitu?

Tidak, habluminannās (hubungan dengan manusia) juga harus baik.

Seorang mukmin yang dia baik hubungannya kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla, tapi buruk hubungannya kepada manusia dianggap seorang mukmin sejati?

Tidak!

Bahkan pernah Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam ditanya oleh sahabat-sahabat beliau, tentang ada sosok wanita yang mereka sebutkan tentang shalatnya yang banyak, puasanya yang banyak, mereka juga mengatakan:

"Tapi Yaa Rasūlullāh, lisannya senantiasa menyakiti tetangga-tetangganya."

Apa jawaban Nabi Shallallāhu 'alayhi wa sallam:

, "هي في النّار"

"Dia di neraka"

Ini mengabarkan kepada kita, kalaulah kita telah memenuhi hak Allāh Subhānahu wa Ta'āla tapi tidak memenuhi hak hamba, menyakiti hamba, menzhalimi hamba maka sungguh hal ini sia-sia.

Suatu ketika Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bersama 'Aisyah Radhiyallāhu Tabāraka wa Ta'āla 'anhā, tatkala mereka dalam kebersamaan datanglah Shafiyah, kemudian Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam berbincang-bincang dengan Shafiyah.

Tatkala Syafiyah pulang Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam menyebutkan keutamaan Shafiyah karena Shafiyah bintu Huyay bin Akhtab suaminya adalah Nabi (Rasūlullāh), keturunan dari nabi, pamannya adalah Yunus bin Matta adalah nabi.

Tatkala Shafiyah Radhiyallāhu 'anhā dipuji Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam di depan putri Abū Bakr Ash Shiddīq, maka Aisyah Radhiyallāhu 'anhā terbakar cemburunya.

Ketika itulah Aisyah Radhiyallāhu Tabāraka wa Ta'āla 'anhā, ummul mukminin, Ibunda kita berkata:

يا رسول الله، حسبك من صفية كذا

"Wahai Rasūlullāh, cukuplah bagimu Shafiyah, dia itu seperti ini."

(Sambil berisyarat)

Maksudnya:

"Yaa Rasūlullāh, anda memuji Shafiyah, apapun yang puji tapi dia seperti ini, bukanlah sosok wanita tinggi, dia pendek. "

Maka mendengar ucapan ibunda kita, seketika itu Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam mengingatkan:

لقد قلت بكلمة لو مزجت بماء البحر لمزجته

"Sungguh engkau telah mengucapkan satu kalimat (wahai 'Aisyah), jikalau kalimatmu ini dimasukan ke dalam air laut (dibenamkan di air laut) sungguh kalimatmu ini akan merubah rasa lautan."

Allāhu Akbar.

Ini menggambarkan kepada kita bahwasanya hak seorang muslim itu besar di hadapan Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Mengghībahnya, menyebutkan kejelekan tentangnya bukanlah perkara kecil.

Banyak yang orang-orang baik shalatnya, menjaga puasanya, mungkin rajin bersedekah tapi tidak mampu menjaga lidahnya, menzhalimi orang-orang Islam lainnya, maka ini bukanlah seorang muslim yang hakiki kata Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam.

Sungguh, ghibāh yang kecil dalam pandangan manusia tapi kata Rasūlullāh:

"Wahai Aisyah, jikalau ucapanmu ini diletakkan di air lautan, dia akan merubah rasa lautan."

Allāhu Akbar.

Terkadang kita menyepelekan ghībah, terkadang kita menyepelekan dosa ini.

مَرَّ الَّنبِيُّ صلي الله عليه وسلم عَلَى قَبْرَيْنِ فَقَالَ: إِنَّهُمَا لَيُعَذَّبَانِ وَمَا يُعَذَّبَانِ فِى كَبِيْرٍ.

Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam melewati dua kuburan, maka beliau mengatakan:

"Sungguh orang-orang yang dalam kubur ini kedua-duanya sedang diadzab bukanlah  karena perkara besar."

(HR Bukhari dan Muslim)

Maksud Rasūlullāh, bukanlah perkara besar dalam pandangan manusia, karena manusia meremehkannya (merendahkannya), menganggap perkara kecil.

Akan tetapi apa kata Nabi kita, ketahuilah sungguh dia adalah besar di hadapan Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Allāhu Akbar.

Apakah perkara ini?

Maka beliau mengatakan:

"Adapun yang pertama, dia tiap kali kencing tidak istinjak, dan adapun yang kedua dia senantiasa jalan dengan menyebarkan ghībah dan mengunjing saudara-saudaranya."

Subhānallāh .......

Kata para ulama, kebanyakan adzab kubur itu efek daripada dua perkara ini.

▪Pertama | Bermudah-mudah dalam beristinja' bahkan tidak istinja'

Kita melihat sebagian kaum muslimin tatkala mereka kencing, mereka tidak istinja'.

Ini penyebab terbanyak adzab kubur.

▪Kedua | Dia jalan kemana-mana sambil berupaya untuk menggunjing manusia.

Subhānallāh.....

Jadi kebanyakan adzab kubur disebabkan karena gunjingan lidah.

Karena itulah, berkata Nabi yang Mulia 'alihi shalātu wa sallam:

اْلمــُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ اْلمــُسْلِمُوْنَ مِنْ لِسَانِهِ وَ يَدِهِ

"Orang Islam itu adalah seorang yang dapat menjaga lisannya sehingga orang lain aman daripada kejahatan lidahnya dan kejahatan tangannya"

(Shahih Muslim: 41)

Berkata Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam ketika mendefinisikan ghibāh:

ذِكْرُكَ أَخَاكَ بِمَا يَكْرَهُ 

"Engkau menyebutkan tentang saudaramu apa-apa yang tidak dia senangi."

(HR Muslim 2589, Abu Dawud 4874, At Tirmidzi 1999 dan lain-lain)

Maka ghībah terkadang dalam bentuk ucapan, terkadang dalam bentuk bahasa isyarat, terkadang dalam bentuk lirikan mata dan seterusnya.

Engkau menyebut tentang saudaramu dengan apa-apa yang tidak dia senangi inilah ghībah.

Maka kaum muslimin sekalian, jika anda ingin menjadi sosok muslim yang baik hendaklah anda perbaiki hubungan anda dengan Allāh Subhānahu wa Ta'āla dan perbaiki hubungan dengan sesama.

Jangan pernah menzhalimi sesama, penuhilah hak sesama.

Sebagian orang shalatnya baik tapi hutang tidak bayar.

Sebagian orang, Subhānallāh, baik kepada manusia tapi tidak shalat.

Semuanya salah.

Seorang muslim yang baik adalah menggabungkan antara hak Allāh Subhānahu wa Ta'āla dan hak manusia.

والله تبارك وتعالى أعلم
وصل الله وسلم على نبينا محمد
والسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
 
__________________________
📦 Donasi Operasional & Pengembangan Dakwah Group Bimbingan Islam
| Bank Mandiri Syariah
| Kode Bank 451
| No. Rek : 7103000507
| A.N : YPWA Bimbingan Islam
| Konfirmasi Transfer : +628-222-333-4004

🌐 Website: 
http://www.bimbinganislam.com
👥 Facebook Page: 
Fb.com/TausiyahBimbinganIslam
📣 Telegram Channel:
http://goo.gl/4n0rNp
📺 TV Channel:
http://BimbinganIslam.tv